Pagi itu, Purbaya Yudhi Sadewa masih menjabat sebagai Menteri Keuangan. Ia datang ke rapat DPD RI, memaparkan anggaran negara dengan detail. Tak hanya angka, ia juga menyelipkan cerita dan candaan yang membuat suasana cair. Namun, siapa sangka, beberapa jam kemudian, posisinya digantikan oleh Suahasil Nazara.

Gaya Kerja yang Tak Biasa

Purbaya dikenal sebagai sosok yang blak-blakan. Dalam rapat, ia mengungkapkan praktik pajak yang tidak adil. Ia menyoroti 40 pabrik baja asal China yang tidak membayar pajak penuh. Setelah sidak ke Pulogadung, ia menemukan bahwa banyak pekerja dari China dan uang mengalir ke luar negeri. "Mereka punya utang ke saya minimal Rp200 miliar, kalau ditekan lagi mendekati Rp1 triliun," ujarnya. Ia pun berjanji memperbaiki kinerja pajak dan menciptakan iklim usaha yang adil.

Tak hanya itu, Purbaya juga cepat mengambil kebijakan. Belum genap seminggu menjabat, ia memindahkan Rp200 triliun dana pemerintah di Bank Indonesia ke lima bank Himbara. Tujuannya agar dana tersebut bergerak menjadi kredit dan mendorong sektor riil. Ia pun tak ragu menjawab kritik yang menyebut kebijakannya melanggar undang-undang. "Pak Didik salah undang-undangnya. Ini bukan perubahan anggaran, hanya uang kita dipindahkan saja," tegasnya.

Purbaya juga dikenal sebagai "menteri kagetan" yang bergaya koboi. Ia tak segan menelepon Kring Pajak sendiri untuk mengetahui layanan Coretax. Ia juga mengumumkan bahwa Rp120 triliun keuntungan Danantara akan masuk kas negara. Meski Danantara protes, ia tetap pada keputusan Presiden Prabowo. "Saya terima aja, kan enak," tuturnya.

Akhir yang Tak Terduga

Semua itu terjadi dalam rentang setahun. Pada 14 September 2026, gaya kerja Purbaya masih terlihat di ruang rapat DPD. Namun, rapat terpaksa dijeda karena panggilan telepon dari Istana. Setelah jeda, Purbaya tak terlihat lagi. Tayangan langsung menampilkan paparan dari Wakil Menteri PPN, Febrian Alphyanto Ruddyard. Sementara itu, di Istana Kepresidenan, Suahasil Nazara disumpah sebagai pengganti Purbaya.

Pagi itu, Purbaya masih Menteri Keuangan. Saat pulang beberapa jam kemudian, ia bukan lagi menteri. Kisah ini menjadi contoh bagaimana dinamika politik bisa berubah cepat. Namun, gaya blak-blakan dan keputusan cepatnya tetap menjadi ciri khas yang tak terlupakan.

Reporter: Salsabila Wahyudi